Makna Kemerdekaan Dalam Kehidupan Berbangsa Dan Beragama

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”. Begitulah bunyi pembukaan UUD 1945 yang tertuang dalam Alinea pertama.

Bangsa Indonesia memprolamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, berarti sudah 76 tahun bangsa Indonesia merdeka. Kemerdekaan ini selain hasil dari perjuangan para pahlawan bangsa juga merupakan rahmat Allah Swt. yang diberikan kepada bangsa ini. Betapa tidak, perjuangan melawan penjajah dengan persenjataan bambu runcing dapat mengalahkan penjajah dengan persenjataan yang serba lengkap. Sebagaimana tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, dengan didorong oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”.

Definisi Kemerdekaan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, secara etimologi kemerdekaan/ke·mer·de·ka·an/ n keadaan (hal) berdiri sendiri (bebas, lepas, tidak terjajah lagi, dan sebagainya); kebebasan. Sedangkan secara terminologi, Merdeka artinya bebas dari segala bentuk penjajahan atau penghambaan. Kemerdekaan adalah suatu keadaan di mana seseorang atau negara bisa berdiri sendiri, bebas dan tidak terjajah.

Sedangkan istilah kemerdekaan dalam bahasa Arab disebut al-Istiqlal. Hari Kemerdekaan disebut ‘Id al-Istiqlal. Hal ini merupakan bentuk penafsiran dari:

التحرر والخلاص من القيد والسيطرة الاجنبية

bebas dan lepas dari segala bentuk ikatan dan penguasaan pihak lain”.

Dalam istilah lain disebutkan:

القدرة على تنفيذ مع عدم القسر والعنف من الخارج

 “kemampuan melaktualisasikan diri tanpa adanya segala bentuk pemaksaan dan kekerasan dari luar dirinya”.

Dengan kata lain kemerdekaan adalah bebas dari segala bentuk penindasan bangsa lain.

Makna Kemerdekaan

Ketika manusia hilang kemerdekaanya, sejak saat itu kemanusiaanya telah terampas. Jadi, bobot kehidupan dan kematian seseorang sebanding dengan mutu kemerdekaanya. Memberi kesempatan kepada orang lain untuk hidup, berarti membebaskannya dari keadaan yang membelenggunya.

Sebaliknya, ketika kita merampas kemerdekaan orang lain, berarti kita menjajah dan menindasnya. Maka, Islam anti penjajahan. Penjajahan fisik sungguh berbahaya. Dan lebih berbahaya lagi adalah penjajahan mental.

Oleh karena itu ada ungkapan Arab :

لا شيئ أثمن من الحرية

“Tiada sesuatu yang lebih berharga melebihi kemerdekaan”.

Seseorang  dikategorikan mati, sekalipun masih bernafas, berjalan-jalan, makan dan minum, melakukan profesi tertentu,  jika tidak merdeka. Seseorang yang mati secara fisik, karena ingin memperjuangkan kemerdekaan, sesungguhnya dia masih hidup di tengah-tengah kita. Karena, umur manusia itu ada dua. Umur jasmani dan umur ruhani.

Ahli sastra Mesir Syauqi mengatakan :

احفظ لنفسك قبل موتها ذكرها فان ا الذكر للا نسان عمر ثا ني

“Jagalah dirimu sebelum wafatmu dengan membangun citra yang baik, sesungguhnya citra yang baik itu bagi manusia adalah umur yang kedua”.

Tingkatan Kemerdekaan

Ada tiga tingkatan kemerdekaan yang merupakan karunia yang paling mahal. Tidak bisa ditukar dengan apapun. Kemerdekaan beragama (hurriyyatut tadayyun), kebebasan berpikir (hurriyyatul fikriyah), kebebasan berpendapat (hurriyyatul qaul). Semua nikmat kemerdekaan itu akan dimintai pertanggungjawaban.

Oleh karena itu, kemerdekan dan kebebasan yang diakui oleh Islam adalah kebebasan yang bertanggungjawab. Berbeda dengan orang Barat yang terkenal dengan pameo mereka: “Berbuatlah sebebas-bebasnya asalkan kebebasanmu tidak mengganggu kebebasan orang lain”.

Mensyukuri Kemerdekaan

Kemerdekaan bangsa Indonesia dari bentuk penjajahan terhadap hak dan kehormatan bangsa adalah sebuah nikmat besar yang wajib untuk disyukuri. 76 tahun yang lalu bangsa ini telah menyatakan kemerdekaannya.

Bentuk mensyukuri kemerdekaan adalah dengan lisan-lisan kita, baik dalam bentuk kalimat tahmid, berterima kasih dan menyebut jasa serta mendoakan para pahlawan.

Akhirnya tugas utama sebagai rakyat indonesia adalah bagaimana menjaga,  mempertahankan dan  memperjuangkan  kemerdekaan, kedaulatan dan kehormatan bangsa untuk berdiri setara bahkan terdepan dengan bangsa-bangsa lain. Begitupula bagaimana memanfaatkan semaksimal mungkin semua potensi yang dimiliki untuk mewujudkan masyarakat yang adil, makmur dan berperadaban. Merupakan suatu ironi sebagai bangsa yang berjuang berabad-abad mengusir para penjajah seperti; Belanda,  Inggris, Portugis, dan Jepang dengan penuh semangat, lalu  dan pengorbanan, saat meraih kemerdekaan justru membesarkan paham kesyirikan,  materialisme, kapitalisme, sekulerisme, individulisme, hedonisme, serta pergaulan bebas  dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Semoga kita semua dapat mewujudkan cita-cita kehidupan bangsa  yang mandiri, adil dan makmur yang diridhoi oleh Allah swt. yaitu terwujudnya Negara dan bangsa yang “baldatun tayyibatun warabbun ghafuur”Wallahu ‘alam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *