SUNNATULLAH YANG TERKANDUNG DALAM PANDEMI*

“Dan hendaklah takut kepada Allah SWT orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah SWT dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (QS. An-Nisa’ : 09)

Sebuah ayat dari Al-Qur’an yang salah satu makna tersiratnya menurut imam Abu Abdillah Fakhruddin Ar Razi adalah anjuran bagi umat Islam untuk memiliki kemapanan dalam ekonomi yang nantinya akan mewujudkan sebuah jaminan untuk keberlangsungan generasi Islam yang beriman, bertakwa, ber-muhadlarah (mempunyai peradaban) dan ber-tamaddun (berkemajuan).  Imam Al Ghazali dalam Ihya’-nya mencuplikkan hadits berikut, nabi Muhammad SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah SWT mencintai hambanya yang  mempunyai pekerjaan dengan tujuan agar dia tidak ketergantungan dengan orang lain. Dan Allah SWT memurkai seorang hamba yang mempelajari ilmu dan menjadikannya sebuah profesi.” Dalam sebuah hadits lain “Sesungguhnya Allah SWT mencintai seorang mukmin yang mempunyai pekerjaan.”

Dari dua dalil sharih di atas sudah cukup bagi kita semua umat Islam sebagai sebuah pemantik semangat untuk menjadi seorang pemeluk agama Islam yang mandiri ekonomi, kokoh keimanan dan istiqamah ketaqwaannya. Sudah cukuplah masa di mana umat Islam dicap sebagai penyebab kemiskinan, ke-jumudan dan kekolotan umat manusia di muka bumi. Islam sama sekali tidak menginginkan apalagi menganjurkan pemeluknya menjadi sebuah beban umat lainnya. Hal itu terbukti dari sikap qudwah yang dicontohkan oleh panutan kita semua, yaitu baginda nabi Muhammad SAW, tidak ada satu riwayat pun yang menceritakan bahwa nabi Muhammad SAW pernah meminta-minta kepada orang lain, walaupun sebenarnya beliau mempraktekkan kehidupan yang serba sederhana yang mungkin sangat sulit untuk ditiru umatnya, seperti beliau yang sering makan tiga hari sekali, bahkan pernah empat hari beliau tidak makan, tetapi hal itu tidak lantas membuat beliau bermental pengemis dengan meminta-minta kepada orang lain.  Kita umat Islam yang berada di era milenial dan era digital dituntut untuk memiliki skill yang terus ter-update dalam segala bidang, mulai dari bidang pendidikan, sosial, ekonomi dan lain-lain.

Rumus kehidupan yang berubah 180ᵒ dari rumus kehidupan era klasik, menuntut kita semua untuk menjadi pribadi yang melek teknologi. Karena dengan teknologi, kita sebagai da’i ilallah mampu menggunakannya sebagai sarana dakwah Islam wasathiyah (moderat). Juga dengan teknologi, kita sebagai ekonom (baik yang berkaliber RT maupun yang sudah go internasional) mampu mengembangkan, meningkatkan dan melebarkan sayap segala usaha ekonomi. Selain dengan niat yang paling dasar mencukupi keluarga kita, juga tentu saja dengan niat untuk li i’laai kalimatillah (untuk menjunjung harga dan martabat agama Allah ) di mata umat lainnya. Terlebih kita yang baru saja digoncang dengan begitu dahsyat dengan sebuah wabah yang bagi sebagian umat manusia dianggap lebih ganas dan lebih menakutkan dari pada adzab Jahannam. Ya, itulah Covid 19, sebuah virus buatan anak manusia yang sampai saat ini masih diperdebatkan status penciptanya.

Terlepas dari pro dan kontra terkait segala hal yang berkaitan dengan Covid 19, terutama bagi rakyat Indonesia, seperti vaksinasi, kebijakan lockdown, PPKM, pembelajaran daring yang berlarut-larut bagi civitas pendidikan di segala jenjangnya dan lain-lain. Yang jelas, Covid 19 memberikan hikmah yang begitu banyak dan agung. Salah satunya adalah tanda kekuasaan Allah SWT, bahwa Allah SWT bisa sekejap mata meluluh lantahkan siapapun yang Dia kehendaki dan mampu mengangkat derajat orang-orang yang Dia kehendaki. Berapa banyak milyarder pengusaha hotel, restaurant, mall dan destinasi wisata yang penghasilannya turun drastis akibat Covid 19, bahkan salah satu perusahaan yang berbisnis di bidang mall yang mempunyai puluhan cabang di seluruh nusantara harus mem-PHK-kan ribuan karyawannya, akibat manajemen perusahaan yang sudah tidak bisa lagi menyeimbangkan pemasukan dan pengeluaran perusahaan. Pembeli yang menjadi sumber utama pemasukan dilarang melaksanakan transaksi secara tatap muka, sehingga pemasukan perusahaan menjadi kosong. Dalam satu sisi yang lain gaji karyawan harus tetap diberikan kepada mereka sebagai bentuk komitmen perusahaan, dalam kurun waktu yang pendek hal itu masih bisa disiasati, tetapi jika kondisi semacam itu berlarut-larut cukup panjang, perusahaan pada akhirnya akan menjadi lemah dan tidak mampu untuk menggaji karyawannya.

Dalam satu sisi yang lain, banyak perintis bisnis mikro tiba-tiba mempunyai omset yang berlipat ganda dari hari-hari biasa saat belum pandemi. Seperti pedagang nasi pecel, rujak ulek, STMJ dan lain-lain yang menawarkan dagangannya melalui jejaring media online dengan sistem COD. Aktivitas dunia maya yang semakin meningkat dan menggeliat, mereka respon dengan memanfaatkan momen ini untuk berinovasi dalam usaha mereka. Saat sebelum pandemi mereka hanya mempromosikan dagangannya terbatas di kedai-kedai mereka, tetapi saat pandemi mereka mempromosikan dagangannya dengan cara yang muqtadlal maqam (tepat sasaran) dengan masa pandemi. Ini semua adalah sebuah perubahan yang menjadi sunnatullah, barang siapa yang tidak bersiap-siap menghadapi sunnatullah ini, maka dia akan digilas oleh zamannya sendiri akibat ke-jumudannya dalam berpikir dan bertindak.

*Oleh: Bapak Muhammad Arwani Sibthunnawawi

Salah satu alumni Madrasah Islamiyah Darussalamah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *