HAJI MABRUR IMPIAN SEJUTA UMAT

Sebelum masuk ketema alangkah baiknya kita tahu dahulu apa definisi dari kata mabrur. Mabrur sendiri berasal dari kata :

بَرًّا – يَبِرُّ – بَرَّ  yang artinya taat atau berbakti kalau dimasukkan dalam kata haji mabrur berarti ibadah haji yang diterima pahalanya oleh Allah SWT.

Pendapat profesor Quraisy Shihabi definisi haji mabrur bukan sekedar sah perihal pelaksanaan ibadah haji. Namun, makna mabrur adalah ketika jamaah haji telah pulang dari tanah suci dia tetap mentaati janji-janji yang telah ia buat sewaktu ia dimakkah untuk menjadi seorang yang lebih baik.

Haji mabrur adalah haji yang maqbul (diterima) dan diberi balasan berupa al-birr yang berupa kebaikan atau pahala.

Menurut Jalaludin as-Suyuthi dalam kitab Syarhus Suyuthi Li Sunan an-Nasa’i salah satu bukti bahwa seorang telah berhasil meraih haji mabrur adalah ketika ia menjadi lebih baik  dari sebelumnya dan terus berusaha mengurangi perbuatan maksiat.

Sebagian dari tanda haji mabrur :

1.            طَيِّبُ الْكَلَامِ    (santun dalam bertutur kata)

2.            إِشْفَاءُ السَّلَامِ    (menyebarkan kedamaian)

3.            إِطْعَامُ الطَّعَامِ (memiliki kepedulian antar sesama yaitu mengenyangkan orang)

Mengutip dari hadist nabi yang artinya :

Sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, apa itu haji mabrur ?” Nabi menjawab : “Memiliki kepedulian antar sesama yaitu mengenyangkan orang dan menyebarkan kedamaian.”

Nabi ditanya : “Apa haji mabrur itu ?” Nabi menjawab : “Memiliki kepedulian antar sesama yaitu mengenyangkan orang dan santun dalam bertutur kata.”

(Hadits Shohih)

Gelar al-birr adalah hak prerogratif Allah SWT untuk disematkan kepada hamba yang dapat meraih haji mabrur dan melihat ciri-ciri tersendiri.

  • MAKNA HAJI MABRUR

Haji Mabrur adalah sesuatu yang istimewa sebagaimana istimewanya tanah suci. Namun ada salah kaprah dalam masyarakat, bahwa haji mabrur seolah-olah merupakan suatu gelar yang semata-mata melekat begitu saja ketika orang pulang dari ber-haji.

Menjadi haji mabrur adalah sesuatu yang harus diusahakan dengan amal. Dengan kata lain gelar haji mabrur harus berefek pada sikap dan perilaku sehari-hari yang menunjukkan pada hal-hal yang baik dan dapat diterima dalam pandangan Allah dan manusia. Dalam artian haji mabrur harus dapat menggabungkan antara aspek iman (إيمان) dengan amal sholih (عملا صالحا) serta dapat menyeimbangkan hubungan dengan Allah (حبل من الله) dan muamalah dengan manusia (حبل من الناس).

Tidak menyakiti orang lain, menghina, berbohong, menipu dan segala bentuk perbuatan buruk lainya adalah hal yang harus dijauhi dan ditinggal. Sebaliknya menepati janji, menyantuni fakir miskin dan anak-anak yatim, menolong orang yang sedang kesusahan, ikut andil dalam mensukseskan pendidikan islam, melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar dan segala sesuatu yang baik adalah perilaku yang harus diwujudkan dan senantiasa mengusahakan agar dapat mencapai kategori haji mabrur.

Banyak orang telah menunaikan ibadah haji ke baitullah mulai dari orang biasa, para pedagang, karyawan, pengusaha, gubernur, presiden. Tetapi, apakah haji mereka mendapat ke-mabruran? Apakah hanya sekedar mabur (naik pesawat).

Haji mabrur, jika dipikirkan secara mendalam, adalah potensi yang luar biasa sekaligus investasi umat islam. Seandainya setiap jamaah haji mendapatkan ke-mabruranya (dalam artian melaksanakan apa yang menjadi ciri-ciri meraih ke-mabruran), maka alangkah mudah dan cepat kita bisa melakukan perbaikan kehidupan dalam segala aspek bidang.

Inilah antara lain makna yang harus dihayati  dan dilaksanakan oleh seorang yang merasa mendapat haji mabrur, sebab balasan haji mabrur tak lain adalah surga. (الحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ)

Tidak mungkin kiranya haji mabrur adalah buah dari ibadah ritual pribadi seseorang kepada Allah tanpa diikuti oleh usaha melaksanakan kebaikan yang menjadi tanggung jawab seorang muslim kepada yang lain.

Siapapun yang membawa sikap takzim memperoleh sikap ta’dzim sebagai balasan. Siapapun yang membawa gula akan memakan kue almond. Bagi siapakah wanita-wanita baik? Bagi pria-pria baik. Perlakukanlah kawanmu dengan hormat, lukai dia dan lihatlah apa yang akan terjadi

Matsnawi-Jalaluddin Rumi

Ditulis Oleh :

Ustadz Agus H. Abdul Muiz Syafiq

Salah satu dzuriyah Pon. Pes. Darussalam Sumbersari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *