PERLUNYA KESUCIAN HATI DALAM MENCARI ILMU*

Dalam kitab Ihya’ Ulum ad-Din , syeikh Abu Hamid bin Muhammad bin Muhammad Al Ghozali (wafat tahun 1.111 M) atau yang lebih dikenal dengan imam Al Ghozali menjelaskan, dalam mencari ilmu, hendaknya hati dibersihkan dahulu dari sifat-sifat tercela. Ini salah satu syarat bagi pencari ilmu. Bagaimana supaya hati yang akan disinggahi ilmu betul-betul bersih dari hal-hal yang menghalangi masuknya ilmu.

Hal yang harus diperhatikan dalam mencari ilmu adalah mensucikan hati dari akhlak-akhlak buruk dan sifat-sifat tercela. Karena pada hakikatnya, mencari ilmu merupakan ibadah hati, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. secara batin. Sebagaimana sholat yang merupakan ibadah dhohir, tidak sah kecuali dengan mensucikan diri dari hadas dan najis. Demikian pula dalam menghidupkan hati dengan ilmu, tidak bisa kecuali setelah mensucikan hati dari akhlak-akhlak buruk dan sifat-sifat yang tidak baik.

Dari penjelasan diatas, imam Al Ghozali menganalogikan orang yang mencari ilmu itu layaknya orang yang menunaikan sholat. Sholat tidak akan sah kecuali harus suci dari hadas dan najis. Demikian pula dalam mencari ilmu, tidak bisa maksimal kecuali terlebih dahulu mensucikan hati dari sifat dan akhlak tercela, seperti sombong, dengki, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, imam Al Ghozali mengutip sebuah hadits yang artinya : “Agama dibangun atas dasar kebersihan”. Melalui hadits diatas, imam Al Ghozali menegaskan bahwa kebersihan , baik dhohir maupun batin merupakan ajaran penting dalam agama. Oleh karena mencari ilmu yang merupakan hal yang sangat penting dalam agama, kebersihan hati menjadi syarat yang tidak boleh dilupakan.

Perlu kita tegaskan, bahwa kebersihan itu tidak berkaitan dengan sesuatu yang tampak oleh mata saja, tetapi sesuatu yang tidak nampak pun juga bisa kotor dan bisa bersih. Kadang sesuatu begitu terlihat bersih luarnya, tetapi didalamnya kotor dan najis. Contoh ini bisa kita temukan dalam salah satu hadits nabi Muhammad SAW. yang artinya : ”Sungguh orang-orang musyrik itu adalah najis”. Bagaimana maksud kata “najis” pada hadits diatas ? maksudnya adalah orang musyrik (yang menyekutukan Allah SWT.) itu najis secara batin. Kendati badannya tampak bersih dan wangi, tapi bersih dan wanginya itu hanya luarnya saja,  kemusyrikan dalam dirinyalah yang membuat najis secara batin. Artinya, hati merupakan perkara batin, juga bisa suci dan bisa najis/kotor. kotornya hati itu adalah ketika didalamnya bersemayam sifat-sifat tercela.

Mengapa hati yang kotor tidak bisa dimasuki ilmu ? Menurut imam Al Ghozali, Allah SWT. saat meletakkan ilmu dihati hamba-Nya adalah melalui perantara malaikat. Jika hatinya kotor, maka malikat tidak akan memasukinya untuk membawa dan meletakkan ilmu.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang gemar melakukan maksiat dan memiliki sifat-sifat buruk serta hatinya kotor, tetapi mereka tetap diberikan ilmu oleh Allah SWT. ? Orang demikian, ibarat meminum racun. Menurut imam Al Ghozali, maksiat yang ia perbuat adalah racun yang ia sadari, bahwa itu racun. Ia tahu dan sadar bahwa maksiat dapat membuat kotor hatinya, tetapi tetap saja melakukannya. Sesungguhnya yang diperolehnya itu bukan ilmu sejati. Sebab ilmu yang dimilikinya sebatas materi-materi yang ia baca dan ia hafalkan saja, tetapi tidak tertancap didalam hati dan menjadi cahaya baginya. Ibnu Mas’ud RA. (wafat 650 M.) pernah berkata, yang artinya : ”Ilmu sejati bukanlah dengan banyaknya riwayat, tetapi ilmu sejati adalah cahaya yang terpatri didalam hati”. Dari ucapan Ibnu Mas’ud diatas, kita memahami bahwa ilmu sejati bukanlah seseorang hafal banyak hal dan mengerti ini dan itu, tapi ilmu sejati adalah ilmu yang menjadi cahaya dihati dan senantiasa meningkatkan ketaatan hamba kepada-Nya.

Oleh karena itu, menurut imam Al Ghozali, jika ada ulama besar dengan ilmu agama yang dalam dan luas tetapi akhlaknya buruk, maka ulama yang demikian adalah orang yang kemanfaatan ilmunya sangat sedikit. Padahal ilmu yang dimilikinya begitu banyak. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan karena Allah SWT. dan akan semakin membuat pemiliknya dekat dengan-Nya.

                Terakhir, sebagai penutup, Imam Syafi’i mengungkapkan syair :

شَكَوتُ إِلى وَكيعٍ سوءَ حِفظي #  فَأَرشَدَني إِلى تَركِ المَعاصي

 وَأَخبَرَني بِأَنَّ العِلمَ نورٌ #  وَنورُ اللَهِ لا يُهدى لِعاصي

“Suatu saat aku lapor kepada Syeikh Waqi’ perihal jeleknya hafalanku. Dan ia menyuruhku untuk meninggalkan maksiat. Ia (syeikh Waqi’) berkata padaku bahwa ilmu adalah cahaya. Dan cahaya Allah SWT. tidak akan diberikan kepada orang yang maksiat”.

*Oleh salah satu staf redaksi buletin MIFDA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *