PENTINGNYA IKHLAS*

Ikhlas adalah hal yang penting bagi segala tindakan dan pekerjaan, terutama yang menyangkut amal ibadah.

            Imam Ghozali pernah mengatakan : “semua orang akan binasa kecuali orang yang berilmu dan yang berilmu itu juga binasa kecuali yang ber’amal dan yang ber’amal pun juga binasa kecuali orang yang ikhlas dan orang yang ikhlas itu masih dalam kekhawatiran yang agung”.

            Jangan sampai segala perbuatan kita terutama yang menyangkut dengan amal selalu diembel-embeli ini itu, atau kita meninggalkan sesuatu karena ada “motif” tertentu (selain lillahi ta’aala). Karena salah satu keburukan bani israail yang dikritik oleh Allah subhanahu wa ta’ala adalah sifat mereka yang melakukan syari’at sesuai kesenangan mereka dan meninggalkan apa yang tidak mereka sukai, seperti yang difirmankan Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat Al-Baqoroh 84-85.

            Diceritakan bahwasanya suku Aus bersekutu dengan yahudi bani Quraidhah dan suku Khazraj bersekutu dengan yahudi bani Nadliir, dan saat kedua suku ini berperang keduanya dibantu oleh sekutu yahudi mereka masing-masing. Mereka membantu membunuh dan juga merobohkan bangunan- bangunan yang lain, dan pada saat ada orang yahudi tertawan, mereka (para yahudi) berbondong-bondong untuk menebusnya, saat mereka ditanyai : “kenapa berbuat demikian (menebus tawanan) ?” mereka menjawab : “karena kami diperintahkan untuk melakukannya”, dan saat ditanya : “kenapa kalian saling membunuh dan merobohkan bangunan saudara (yahudi) kalian ?” mereka menjawab : “karena malu jika sekutu kami terhinakan”. Allah subhanahu wa ta’ala menegur mereka dengan berfirman :

أفتؤمنون ببعض الكتاب} وهو الفداء {وتكفرون ببعض} وهو ترك القتل والإخراج والمظاهرة}

”{Apakah kalian iman dengan sebagian dari Alkitab} yaitu perintah untuk menebus/membebaskan tawanan ? {Dan kufur terhadap sebagian yang lain} yaitu meninggalkan pembunuhan, pengusiran dan bahu membahu dalam melakukan itu ?”

            Dalam kisah tersebut, bisa kita ambil pelajaran bahwasanya tidak baik mengerjakan atau meninggalkan suatu perbuatan karena didasari motif tertentu, seperti halnya banyak terjadi saat ini, melakukan sesuatu karena pesanan atau meninggalkannya karena desakan atau tekanan.

            Lantas kalau kita belum bisa ikhlas, apakah kita tidak usah beramal dulu ? Tentu saja tidak ! Yang benar adalah kita tetap ber’amal dengan berusaha untuk ikhlas walaupun ujung-ujungnya belum bisa, karena amal tersebut yang kelak akan menuntun kita menuju ikhlas.

Catatan :

            Ikhlas itu tempatnya dihati dan tidak terlihat dari luar, maka belum tentu orang yang memperlihatkan amalnya itu tidak ikhlas, belum tentu juga orang yang melakukan kebaikan secara sembunyi-sembunyi itu ikhlas.

            Maka sebagai seorang muslim kita dituntut untuk selalu husnudzon kepada saudara muslim yang lain, yang berarti bahwa jika kita melihat orang melakukan amal baik, baik itu secara terang-terangaan atau sembunyi-sembunyi kita harus meyakini bahwa mereka melakukannya dengan ikhlas.


*Ditulis oleh Ustadz Agus H. Abdul Hamid Fahmi

Salah satu dzuriyah Pon. Pes. Darussalam Sumbersari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *