Pendidikan Karakter

Oleh : Ust. A. Hamdan In’ami*

Menurut Imam Al-Ghazali, tujuan pendidikan harus mengarah kepada realisasi tujuan keagamaan dan akhlak, dengan titik penekanannya pada perolehan keutamaan dan taqarrub kepada Allah dan bukan untuk mencari kedudukan yang tinggi atau mendapat kemegahan dunia. Sebab jika tujuan pendidikan diarahkan selain untuk mendekatkan diri pada Allah, akan menyebabkan kesesatan dan ke-madlarat-an.

Rumusan tujuan pendidikan didasarkan pada firman Allah SWT. tentang tujuan penciptaan manusia yaitu “ Tidaklah Aku jadikan jin dan manusia melainkan agar beribadah kepada-Ku”. (QS. Adz-Dzariat: 56). Tujuan pendidikan yang dirumuskan Al-Ghazali tersebut dipengaruhi oleh ilmu tasawuf yang dikuasainya. Karena ajaran tasawuf memandang dunia ini bukan merupakan hal utama yang harus didewakan, tidak abadi dan akan rusak. Sedangkan maut dapat memutuskan kenikmatannya setiap saat. Dunia merupakan tempat lewat sementara. Sedangkan akhirat adalah desa yang kekal dan maut senantiasa mengintai setiap manusia.

Berdasarkan objek, ilmu dibagi menjadi tiga kelompok

1. Ilmu pengetahuan yang tercela secara mutlak, baik sedikit maupun banyak seperti ilmu sihir, dan ilmu tentang ramalan nasib.

2. Ilmu pengetahuan yang terpuji, baik sedikit maupun banyak, namun kalau banyak lebih terpuji, seperti ilmu agama dan ilmu tentang beribadah.

3. Ilmu pengetahuan yang kadar tertentu terpuji, tetapi jika mendalaminya tercela, seperti dari sifat naturalisme.

Berdasarkan status hukum mempelajari yang dikaitkan dengan nilai gunanya dan dapat digolongkan kepada:

1. Fardlu ‘ain, yang wajib dipelajari oleh setiap individu, yaitu ilmu agama dan cabang-cabangnya. Ilmu ini jika tidak dipelajari oleh setiap individu maka individu tersebut berdosa.

2. Fardlu kifayah, ilmu ini tidak diwajibkan kepada setap muslim, tetapi harus ada diantara orang muslim yang mempelajarinya. Dan jika tidak seorang pun diantara kaum muslimin dan kelompoknya mempelajari ilmu yang dimaksud, maka mereka akan berdosa. Contohnya ilmu kedokteran, hitung, pertanian, dll.

Dengan latar pendidikan seperti ini maka untuk mewujudkannya diperlukan beberapa komponen yang saling melengkapinya satu sama lain diantaranya adalah pengajar dan pelajar.

Dalam menjelaskan peserta didik, Al-Ghazali menggunakan dua kata yakni , al muta’allim (pelajar) dan thalib al-ilmi (pencari ilmu pengetahuan). Namun bila kita melihat peserta didik secara makna luas yang dimaksud peserta didik adalah seluruh manusia mulai dari awal konsepsi hingga manusia usia lanjut. Selanjutnya, karena dalam pembahasan ini hanya terkonsentrasi pada wilayah pendidikan formal maka bahasa peserta didik terbebani hanya bagi mereka yang melaksanakan pendidikan di lembaga pendidikan sekolah.

Pemikiran Al-Ghazali yang sangat luas dan memadukan antara dua komponen keilmuan, sehingga menghantarkan pemahaman bahwa konsep peserta didik menurutnya adalah manusia yang fitrah. Konsepnya berlandaskan pemahamannya terhadap menafsirkan firman Allah pada surat Ar-Rum ayat 30 yang artinya :“ Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,” dan hadits nabi yang artinya : “Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, hanya kedua orang tuanya yang menjadikan ia yahudi atau nasrani, ataupun majusi.” (H.R. Muttafaq ‘alaih dari Abu Hurairah R.A.).

Secara bahasa kata fitrah berasal dari kata “Fathara” (menciptakan) sama dengan “khalaqa”. Jadi kata fitrah merupakan isim masdar yang berarti ciptaan atau sifat dasar yang telah ada pada saat diciptakannya manusia (asal kejadian).

Adapun kaitannya terhadap peserta didik, bahwa fitrah manusia mengandung pengertian yang sangat luas. Imam Al-Ghazali menjelaskan klasifikasi fitrah dalam beberapa pokok sebagai berikut:

1. Beriman kepada Allah

2.Kemampuan dan kesediaan untuk menerima kebaikan dan keturunan atau dasar kemampuan untuk menerima pendidikan dan pengajaran.

3.Dorongan ingin tahu untuk mencari hakikat kebenaran yang merupakan daya untuk berfikir.

4.Dorongan biologis yang berupa syahwat dan ghodlob atau insting.

5.Kekuatan lain-lain dan sifat-sifat manusia yang dapat dikembangkan dan disempurnakan.

Dengan demikian, konsep fitrah yang diletakkan Al-Ghazali dalam memahami peserta didik masih memiliki relevansi dengan dunia pendidikan modern dalam hal sifat-sifat pembawaan, keturunan, dan insting manusia. Hanya saja, dalam hal ini pandangan Al-Ghazali lebih terkonsentrasi pada nilai moral, belajar merupakan salah satu bagian dari ibadah guna mencapai derajat seorang hamba yang tetap dekat (taqarrub) dengan khaliq-nya. Maka dari itu, seorang peserta didik harus berusaha mensucikan jiwanya dari akhlak yang tercela.

Selanjutnya syarat yang mendasar bagi peserta didik seperti di atas mendorong kepada terwujudnya syarat dan sifat lain sebagai seorang peserta didik, syarat-syarat tersebut antara lain:

1. Peserta didik harus memuliakan pendidik dan bersikap rendah hati atau tidak takabbur. Hal ini sejalan dengan pendapat Al-Ghazali yang menyatakan bahwa menuntut ilmu merupakan perjuangan yang berat yang menuntut kesungguhan yang tinggi dan bimbingan dari pendidik.

2.Peserta didik harus merasa satu bangunan dengan peserta didik lainnya  dan sebagai satu bangunan maka peserta didik harus saling menyayangi dan menolong serta berkasih sayang sesamanya.

3.Peserta didik harus menjauhi diri dari mempelajari berbagai madzhab yang dapat menimbulkan kekacauan dalam pikiran.

4.Peserta didik harus mempelajari tidak hanya satu jenis ilmu yang bermanfaat, melainkan ia harus mempelajari berbagai ilmu lainnya dan berupaya sungguh-sungguh mempelajarinya sehingga tujuan dari setiap ilmu tersebut tercapai.

Setiap guru, jangan lupa bahwa ia unsur terpenting dalam pendidikan. Masa depan anak didik tergantung banyak pada guru. Guru yang pandai, bijaksana dan mempunyai keikhlasan dan sikap positif dalam pekerjaanya akan dapat mendidik anak-anak. Sebaliknya guru yang tidak bijaksana dan menunaikan pekerjaanya tidak ikhlas atau didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan bukan kepentingan pendidikan, misalnya hanya sekedar mencari rizki atau hanya merasa terhormat menjadi guru itu dan sebagainya, akan mengakibatkan arti atau manfaat pendidikan yang diberikannya kepada anak didik menjadi kecil atau mungkin tidak ada, bahkan mungkin menjadi negatif.

Salah satu lembaga yang menanamkan model pendidikan seperti ini adalah pesantren, karena pendidikan di pesantren memiliki keunggulan tersendiri, terutama dalam penanaman nilai-nilai luhur dan akhlaq. Hal ini terbukti bagaimana konstribusi nyata pesantren dalam melahirkan pemimpin yang berkarakter, kuat, militan, pantang menyerah dan yang lebih penting adalah menjunjung  tinggi nilai ikhlas untuk mencari ridlo Allah subhanahuwata’ala. Konstribusi tersebut tidak terhenti pada masa perjuangan, melainkan hingga dewasa ini. Pimpinan institusi tertinggi negara banyak yang dipimpin oleh tokoh nasional dengan latar belakang pesantren. Sederet pemimpin nasional yang alumni pesantren misalnya KH. Wahid Hasyim, KH. Abdurrahman Wahid, Prof. Nurcholish Majid, KH. Ali Yafie, KH. M.A. Sahal Mahfudh, Prof. Mahfudh  MD dan lain sebagainya.

Dengan begitu berperannya pesantren dalam membangun Indonesia, selayaknya pesantren tidak di-anaktiri-kan dengan lembaga pendidikan formal selain pesantren. Dan perlu adanya perhatian khusus terhadap berlangsungnya proses pendidikan di pesantren.

*Penulis adalah alumni Pon. Pes. Darussalam Sumbersari sekaligus pencetus buletin MIFDA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *