KENAPA HARUS MODERAT..???

Oleh: Bapak Syaifudin Makmun S.Pd.I*

Dinamika keagamaan di Indonesia terus mengalami ujian, perbedaan pendapat terkait ‎dengan wawasan keislaman dan kebangsaan kembali mencuat. Padahal, konsep Islam ‎yang dijalankan masyarakat Indonesia sudah terjadi sejak Abad ke-7 masehi. ‎Puncaknya pada abad ke-14 di mana Wali Songo menjadi tokoh utama di balik ‎berkembangnya Islam di Pulau Jawa.‎

Sejak Islam masuk ke Indonesia ratusan tahun silam, tidak ada perdebatan berkepanjangan disebabkan oleh cara beragama masyarakat. Meski terjadi selisih paham terkait keislaman di Indonesia, namun dalam catatan sejarah tidak pernah menjadikan itu sebagai isu utama yang muncul ke publik. Tahun 1949 misalnya, tokoh Negara Islam Indonesia (NII) Sekarmadji Maridjan Kartoseowirjo melakukan perlawanan kepada pemerintah dengan harapan Indonesia menjadi negara Islam. Perselisihan disebabkan oleh pemahaman agama tersebut tidak sampai mewariskan duka yang mendalam, karena tidak terjadi peperangan yang dinilai menjadi pemicu utama hancurnya sebuah negara.

 Namun, beberapa tahun terakhir ada kelompok masyarakat di Indonesia yang kembali mempertentangkan relasi antara agama dan negara. Menurut kelompok itu, demokrasi produk orang kafir tidak boleh dijadikan sistem berbangsa dan bernegara di Indonesia. Termasuk Pancasila yang dibuat oleh manusia, tidak berhak atas‘status sebagai ideologi negara’. Kelompok itu terus membuat resah di masyarakat, bahkan membuat propaganda-propaganda yang menjurus pada perpecahan. Puncaknya, pergantian sistem pemerintahan dari demokrasi menjadi khilafah mereka gelorakan. Padahal dalam Islam sistem pemerintahan tersebut banyak model, tidak saklek (tertentu) pada satu jenis. keinginan menjadi negara Islam seperti khilafah ini yang disebut oleh sebagian tokoh sebagai jalan dakwah Islam garis keras.

Akhirnya, Islam Wasathiyah atau Islam Moderat pun kembali digelorakan sebagai langkah mempersatukan pemahaman agama masyarakat. Bahwa Islam bukanlah agama yang mengusung arus keras, bukanlah agama yang cepat-cepat mengkafirkan, membid’ahkan. Sebaliknya, Islam moderat sebagai Islam yang rahmatan lil ‘alamin selaras dengan ajaran Islam yang diwariskan Nabi Muhammad SAW. Untuk menggali terkait Islam moderat dan masalah-masalah keagamaan di Indonesia tersebut, Mustasyar PBNU KH. A. Mustofa Bisri menjelaskan, pada dasarnya Islam itu moderat. Dengan demikian, kalau tidak moderat, maka itu bukanlah Islam.“Moderat itulah Islam. Jadi bukan Islam moderat. Islam itu memang moderat. Jangan Islam moderat, lalu Islam apalagi. Kalau tidak moderat, tidak Islam.” Beliau juga mengatakan, “Allah melarang segala sesuatu yang berlebih sebagaimana yang tertera dalam Al-Quran. Bahkan, Nabi Muhammad bersabda, ‘Sebaik-baiknya sesuatu adalah yang di tengah-tengah’. Semua yang ekstrem-ekstrem itu dilarang di Qur’an, ‘wa laa tusrifuu’ (jangan berlebih-lebihan)”, jelas pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin Leteh, Rembang itu.

Untuk lebih jelasnya mengenai tentang model Islam wasathiyah, moderat, adil, dan tengahan itu yang seperti apa?, dan apa tanda-tanda atau ciri-cirinya?. Mengutip dari sebuah artikel yang ditulis oleh A Muchlishon Rochmat. Dia menuliskan setidaknya ada enam ciri-ciri bersikap moderat dalam berislam menurut buku Moderasi Islam.

Pertama, memahami realitas. Dikemukakan bahwa Islam itu relevan untuk setiap zaman dan waktu (Shalih li kulli zaman wa makan). Disebutkan juga bahwa ajaran Islam itu ada yang tetap dan tidak bisa dirubah, seperti shalat lima waktu, dan ada juga yang bisa dirubah karena waktu dan tempat seperti zakat fitrah dengan beras, gandum, atau sagu tergantung yang menjadi makanan pokok pada masyarakat itu. Umat Islam yang bersikap moderat (wasath) adalah mereka yang mampu membaca dan memahami realitas yang ada, tidak gegabah atau ceroboh. Mempertimbangkan segala sesuatu, termasuk kebaikan dan keburukannya. Terkait hal ini kita bisa belajar banyak dari Nabi Muhammad Saw.  Beliau adalah orang pandai dalam membaca realitas. Salah satu contohnya adalah Nabi Muhammad Saw. tidak menghancurkan patung-patung yang ada di sekitar Ka’bah selama beliau berdakwah di sana. Beliau sadar tidak memiliki kekuatan untuk melakukannya pada waktu itu.  Namun pada saat Fathu Makkah, semua patung dan kemusyrikan di kota Makkah dihancurkan semua.

 Kedua, memahami fiqih prioritas. Umat Islam yang bersikap moderat sudah semestinya mampu memahami mana-mana saja ajaran Islam yang wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Mana yang fardlu ‘ain (kewajiban individual) dan mana yang fardlu kifayah (kewajiban komunal). Di samping memahami mana yang dasar atau pokok (ushul) dan mana yang cabang (furu’).

 Ketiga, memberikan kemudahan kepada orang lain dalam beragama. Ada istilah bahwa agama itu mudah, tapi jangan dipermudah. Pada saat mengutus Muadz bin Jabal RA. dan Abu Musa al-Asy’ari RA. ke Yaman untuk berdakwah, Nabi Muhammad Saw. berpesan agar keduanya memberikan kemudahan dan tidak mempersulit masyarakat setempat. Cerita lain, pada suatu ketika ada sahabat nabi yang berhubungan badan dengan istrinya pada siang bulan Ramadhan. Lalu sahabat tersebut mendatangi Nabi Muhammad Saw. untuk meminta solusi. Nabi Muhammad Saw. menyebutkan kalau hukuman dari perbuatan sahabatnya itu adalah memerdekakan budak, puasa dua bulan berturut-turut, atau memberi makan 60 orang fakir miskin. Ternyata sahabat tadi mengaku tidak mampu untuk menjalankan itu semua karena dia memang miskin dan payah. Seketika sahabat tadi membawa sekeranjang kurma untuk nabi. Kemudian Nabi Muhammad Saw. menyuruh sahabatnya itu untuk menyedekahkan kurma kepada orang yang paling miskin. Sahabat tadi menjawab kalau dirinya lah orang yang paling miskin. Lalu Nabi Muhammad Saw. memerintahkan sahabat tadi untuk membawa sekeranjang kurma itu dan menyedekahkan kepada keluarganya sebagai kafarat atas perbuatannya, yakni jima’ pada siang bulan Ramadhan.

Keempat, memahami teks keagamaan secara komprehensif. Perlu dipahami bahwa satu teks dengan yang lainnya itu saling terkait, terutama teks-teks tentang jihad misalnya. Ini yang biasanya dipahami separuh-separuh, tidak utuh, sehingga jihad hanya diartikan perang saja. Padahal makna jihad sangat beragam sesuai dengan konteksnya.

Kelima, bersikap toleran. Umat Islam yang bersikap moderat adalah mereka yang bersikap toleran, menghargai pendapat lain yang berbeda –selama pendapat tersebut tidak sampai pada jalur penyimpangan. Karena sesungguhnya perbedaan itu adalah sesuatu yang niscaya. Intinya sikap toleran adalah sikap yang terbuka dan tidak menafikan yang lainnya. Para sahabat sangat baik sekali mempraktikkan sikap toleran. Misalnya Abu Bakar RA. melaksanakan shalat Tahajjud setelah bangun tidur, sementara Umar bin Khattab tidak tidur dulu saat menjalankan salat Tahajjud. Para ulama terdahulu juga sangat toleran sekali. Imam Syafi’I RA. misalnya. Bahkan, beliau sampai berkata: “Kalau pendapatku benar tapi mungkin juga salah. Pendapat orang lain salah tapi mungkin juga benar.”

Keenam, memahami sunnatullah dalam penciptaan. Allah menciptakan segala sesuatu melalui proses, meski dalam Al-Qur’an disebutkan kalau Allah berkehendak maka tinggal “kun fayakun”, namun dalam beberapa hal seperti penciptaan langit dan bumi -yang diciptakan dalam waktu enam masa- pun dalam penciptaan manusia, hewan, dan tumbuhan, semua ada tahapannya. Begitu pun Islam, orang yang bersikap moderat pasti memahami kalau ajaran-ajaran Islam itu diturunkan dan didakwahkan secara bertahap. Pada awal-awal, Nabi Muhammad Saw. berdakwah secara sembunyi-sembunyi, lalu terang-terangan.  Juga dalam minuman keras (khamr) misalnya, ada empat tahapan dalam pelarangan khamr : informasi kalau kurma dan anggur itu mengandung khamr (an-Nahl: 67), informasi manfaat dan mudarat khamr (al-Baqarah: 219), larangan melaksanakan shalat saat mabuk (an-Nisa: 43), dan penetapan keharaman khamr (al-Maidah: 90). Jadi, memang pada dasarnya karakter ajaran Islam itu moderat (wasath), seperti yang telah ditegaskan oleh KH. A. Mustofa Bisri, ulama kharismatik Nahdlatul Ulama (NU) dalam beberapa kesempatan. Akan tetapi, sifat atau karakter dasar Islam yang moderat itu tertutup oleh perilaku dan sikap sebagian umat Islam yang berlebih-lebihan (ghuluw), baik yang radikal, yang fundamental, atau pun yang liberal. Bukankah sebaik-baiknya urusan adalah yang pertengahan (khoriul umuri awsathuha)?. Wallahu ‘alam.

*Penulis adalah salah satu pengajar di Madrasah Aliyah Muádalah Pon. Pes. Darussalam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *