TRADISI DAN MITOS LOKAL DI MATA ISLAM

Indonesia adalah Negara yang mayoritas penduduknya memeluk agama islam. Agama ini masuk dan diterima di Indonesia di antaranya dengan melalui proses asimilasi dan akulturasi antara budaya lokal yang masih beraroma Hidhu-Budha dan anemisme-dinamisme dengan syariat dan budaya islam. Lalu sebatas manakah perpaduan antara tradisi lokal & agama yang diperbolehkan ???

            Perlu diketahui, bahwa agama Islam merupakan agama yang rahmah li ‘alamiin yang tidak pernah menolak sebuah tradisi-tradisi yang berlaku di masyarakatnya. Bahkan islam banyak mengadopsi kebudayaan masyarakat jahiliyah yang selanjutnya diisi nuansa islami. Islam juga mengakui bahwa adat merupakan salah satu pijakan hukum syariat, sebagaimana kaidah fikih yang berbunyi “Al-‘Adah al-Muhakkamah”.  Meskipun demikian, tidak semua adat yang ada dalam masyarakat islam dapat dilakukan dengan tanpa batas. Akan tetapi adat yang bisa dikerjakan adalah adat-adat yang tidak berbenturan dengan syariat islam. Hal ini sebagaimana yang sampaikan Imam al-Sya’rani dalam kitab Tanbih al-Mughtariin yang artinya:

             Para ulama yang membawa agama islam ke Indonesia tidak serta merta melarang dan menghapus budaya dan tradisi lokal. Kearifan tradisi lokal masih terus dipertahankan dengan dibumbui ajaran-ajaran islam. Selanjutnya sebatas manakah perpaduan budaya dan agama yang diperbolehkan dalam tinjauan Islam, baik yang berasal dari budaya masyarakat islam atau dari agama lain?.

“dalam suatu kesempatan, Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang pengertian berakhlak yang baik sebagaimana diuraikan dalam hadist: “wa khaalik al-naas bi khuluq hasan”. Beliau menjawab ” berakhlak yang baik adalah dermawan, pemaaf, sabar terhadap kesalahan orang lain.” Sayyidina ‘Ali ditanya tentang akhlak yang baik yang dimaksud dalam hadist tersebut.  Beliau menjawab ” berakhlak yang baik adalah beradaptasi dengan sesama manusia dalam segala hal, selama tidak berupa kemaksiatan.”

            Secara tersirat, keterangan ini menyatakan bahwa memelihara tradisi, budaya, adat istiadat merupakan akhlak yang harus dimiliki seorang muslim, (dengan catatanadat tersebut tidak bersebrangan syariat islam). Oleh karenanya, dapat dipahami bahwa praktek akulturasi dan asimilasi di atas dapat diperbolehkan selama tidak bersebrangan dengan syariat islam.

MITOS DALAM PERSPEKTIF AGAMA

            Mitos dalam kehidupan sebagian masyarakat Indonesia telah menjadi suatu kepercayaan yang telah mengakar kuat. Mitos dalam bingkai syariat Islam memiliki substansi yang hamper sama dengan Tathayyur yang ma’nanya adalah sebuah reaksi yang terjadi secara berulang-ulang dan diyakini kebenarannya tentang akan adanya suatu musibah atau kejadian yang disebabkan oleh sesuatu selain Allah. Sikap seperti ini pernah ada pada orang-orang musyrik di zaman jahiliyah dahulu namun setelah datangnya islam dengan diutusnya Rasulullah Saw. Anggapan seperti ini (tathayyur) telah dilarang sebagaimana sabda Rasulullah Saw. yang artinya : “tidak ada Hammah (ruh dan jiwa manusia berada pada burung saat meninggal), tidak ada Tathayyur (mengundi nasib pada burung), tidak ada kesialan pada bulan Shofar dan tidak ada ‘Adwah (penularan).” (HR bukhori muslim).

Secara prinsip, dasar tathayyur terhadap sesuatu terklasifikasi dalam empat tahapan.

1. kekhawatiran pada selain Allah yang terjadi pada sesuatu yang bersifat idhtirodi (sesuatu yang terjadi secara adat / ketakutan naluriah manusia), seperti takut pada bisa yang dapat meracuni, hewan buas yang akan menyakiti, dan lain sebagainya. Kekhawatiran bahaya akan hal ini bukanlah sesuatu yang diharamkan syara’ sebab ketetapan-ketetapan Allah yang ditunjukan pada sesuatu wajib untuk diyakini / memang benar-benar terjadi.

2. keyakinan akan terjadinya sesuatu yang secara kebiasaan memang sering terjadi, seperti halnya obat-obatan yang dapat menyembuhkan penyakit. Sebab-sebab ini walaupun tidak sampai masuk kategori ithtirodi, akan tetapi keyakinan ini didasarkan terhadap hal-hal yang sering terjadi, sehingga hukumnya seperti bagian pertama.

3. keyakinan atas sesuatu yang secara dzatiyahnya (fisiknya) bukan merupakan hal yang dapat menimbulkan Mudhorot (bahaya), seperti larangan menikah bulan Syuro, larangan menikah dengan orang yang pintu rumahnya saling berhadapan, dan lain sebagainya. Model pembagian yang ketiga inilah yang diharamkan syariat, sebab hal ini termasuk su’u al dzan (berprasangka buruk) terhadap Allah Swt. Dengan tanpa didasari sebab sama sekali. Hal ini sebagaimana hadist : “Rasulullah suka mengharap ketularan (tafa’ul) yang baik dan membenci tathayyur”. (Kitab Al-Mantsur fii Al-Qowa’id  Juz :1, Hal:398).

4. kekhawatiran akan suatu hal yang tidak dapat memberikan dampak bahaya sama sekali, baik secara kebiasaan atau mayoritasnya (bisa terjadi juga bisa tidak), seperti penyakit kudis. Meninggalkan kekhawatiran akan hal ini dianggap wira’i sebab dikhawatirkan akan terjerumus dalam thiyarah  yang diharamkan.

            Keyakinan pada dua bagian awal di atas tidaklah dihukumi haram, selama tetap meyakini bahwa yang memberikan dampak sebenarnya adalah Allah. Sebab dua bagian awal ini merupakan bentuk hubungan kausalitas (sebab-akibat) yang mempunyai kaitan erat dengan dampak yang ditimbulkannya. Wa Allah A’lam Bi As – Showab. (Referensi keterangan dari “buku pencerahan kitab kuning”, hal: 339-342.)

Oleh : Salah satu siswa Madrasah Islamiyah Darussalamah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *